Monday, March 02, 2015

Bersabar menunggu..

Saya beranikan untuk menulis ini. Sebenarnya karena hal ini tabu atau topik yang paling dihindari dalam pembahasan saya. Setelah menikah pada tahun 2010 bulan oktober, tanggal 24. Sekarang ini bulan maret 2015. Masih inget banget kejadian itu berlangsung indah, itulah moment terindah dalam hidup saya dan bagi setiap orang yang pernah mengalaminya. Waktu itu pernikahan terjadi antara saya dan istri bertempat di depan rumah mempelai wanita, sukoharjo.

"Siapa yang enggak seneng bisa nikah?" ujarku waktu itu. "Ini momen terbesar dalam hidupku, aku bersyukur sekali" ujarku pula. Enggak kebayang saya dari keluarga ya biasa-biasa saja dengan bermodal pekerjaan sekelas outsourching di sebuah perusahaan telekomunikasi waktu itu.

Masih juga saya juga terkenang-kenang saat memikirkan hal itu. Disaat temen-temen lain waktu itu juga belum semua menikah. Seperti kebanyakan orang, setelah acara pernikahan masih rajin mampang foto di media sosial waktu itu, entah waktu itu emang masih narsis beda dengan sekarang. Sekarang gak pede. Namun terus terang saya pun masih takjub waktu itu bisa terselenggara dengan lancar, entah kalau saat itu saya enggak nikah, gak kebayang sekarang jadi apa.

Cover nikahan saya yang dulu
sering saya pajang di sosmed

Namanya nikah ibaratnya kapal baru mulai berangkat berlayar. Intinya kehidupan yang sebenernya diriku adalah baru mulai saat nikah. Memang keadaan berubah lebih menyenangkan, punya saudara baru karena menghubungkan silaturahmi antar dua keluarga.

Apa artinya pernikahan bagi saya
Menurut pandangan saya, tiap pasangan yang nikah memiliki kehidupan yang beda-beda pula. Ada yang setelah nikah seakan kehidupannya tambah merana ada pula yang setelah menikah kehidupannya senang-senang terus. Entah apa itu pilihan hidup yang jelas tujuan menikah untuk menyempurnakan ibadah menurut agama yang saya anut. Ada yang setelah nikah memiliki rumah sendiri, ada yang ikut ortu atau mertua, ada juga yang setelah menikah malah LDR, namun tiap pasangan punya rencana sendiri-sendiri yang merupakan usaha untuk mencapai kebahagiaan.

Namun ternyata omongan orang itu sangat berpengaruh dalam kehidupan. Ini klasik ya, semacam "kapan lulus kuliah?", "kapan nikah?", "sudah punya anak belom", "punya anak berapa?", "kerja dimana sekarang?", pertanyaan-pertanyaan yang mudah terucap namun susah dijawab bagi yang sedang mangalaminya secara tidak mulus. Sedangkan hidup itu seperti jalan, kadang gak selamanya mulus terus.




Belum dikaruniai anak
Ternyata nasib yang diberikan Alloh SWT kepada saya setelah menikah adalah belum diberikan keturunan sampai sekarang, kalau dihitung-hitung dari tahun nya udah 5 tahun (2010 sd 2015), tapi sebenernya belum ada 5 tahun karena belum bulan Oktober. Nasib seperti ini sudah saya khawatirkan sejak saya belum nikah, kekhawatiran seseorang manusia apabila tidak dikaruniai seorang anakpun. Nasib pasangan itu rasanya menyedihkan lebih dari pasangan yang miskin tapi masih punya anak.

Sejak setelah menikah dulu, istri saya sudah langsung hamil. Kata orang wah "ces pleng", alhamdulillah. Namun kehamilannya yang pertama gagal karena keguguran. Usianya cuma 11 minggu, belum lewat tri semester pertama. Sekarang ini kalau denger pasangan yang "ces pleng", teringat kejadian tempo dulu, saya agak sedih. Kebahagiaan yang tertutup kesedihan.

Tidak tinggal diam, dokter menyarankan untuk test TORCH, setelah mengetahui hasil test dokter mengatakan aman untuk hamil kembali setelah 2 kali menstruasi. Saya juga lega, akhirnya istri saya setelah 6 bulan sudah isi lagi. Saya berpikir karena kadang kehamilan juga bisa gagal, semoga kehamilan kedua istri saya normal.

Sayangnya setelah berjalan kehamilan yang sama 11 minggu, istri saya kembali ngeflek, dan keguguran. Hati ini rasanya seperti disayat. Sedih berulang, istri saya seperti tidak punya harapan hidup. Dua kali hamil dan gagal, operasi kuret yang kedua kalinya ini juga seakan membuat istri saya cape banget.

Saya juga ga ngerti kenapa Alloh belum ngasih saya keturunan sampai saat ini, bahkan setelah kehamilan yang kedua waktu itu sekarang ini udah lama istriku tidak kunjung isi lagi. Mungkin kami berdua juga masih shock.

Shock dan stress juga mempengaruhi kehamilan, banyak juga yang bilang kalau kandungan istri saya lemah. Padahal kalau saya logika bisa saja kualitas sperma saya yang kurang mumpuni. Mengingat kerja saya adalah shift dan sebagian besar malam. Saya juga sempat berfikir apa kerjaan saya yang salah karena bisa dihitung intensitas saya bertemu istri walaupun satu rumah. Saat saya pulang kerja, istri saya pergi untuk bekerja, saat bertemu adalah saat untuk tidur saja.

Kalau kerja shift adalah hambatan, mengapa teman-teman kantor yang sama berkerja shift mudah mendapatkan keturunan?, saya juga gak habis pikir apakah mungkin mereka bekerja shift seperti ini baru beberapa tahun, sedangkan saya sudah shift malam sejak tahun 2007?. Emang bekerja shift malam itu sedikit banyak berpengaruh pada kesehatan.

Saya beritahu nasib pasangan yang sudah lama belum dikaruniai keturunan, biasanya karena dua hal,

Yang pertama karena dari awal belum pernah hamil, yang kedua karena sering keguguran. Kedua-duanya tidak ada yang mending, semuanya bukan pilihan yang menyenangkan. Alangkah bahagianya kalau setelah menikah mereka langsung diberi keturunan dengan lancar, dan terkadang hal itu bukan termasuk nikmat yang mereka  syukuri.

Bersyukurnya belum punya keturunan setelah lama menikah itu banyak dinasehati sama orang-orang, kadang-kadang bagus buat introspeksi diri. Walau kadang nasihat itu gak rekomended, bahkan nasehat itu berubah jadi ejekan atau ternyata sekedar buat bahan cemoohan. Terkadang bentuk omongan orang secara tidak sadar akan menyinggung seseorang lain namun yang bersangkutan gak menyadarinya, itu biasa.

Belum punya keturnan lama setelah nikah, bagi pria rasanya enggak jantan banget, malah lebih parah jika dibanding status jomblo atau gak laku. Ini sudah dinikahin, koq ga ada buktinya, bisa aja dianggap mandul, ga jantan, gak perkasa, ga ces pleng paling parah diragukan status gendernya karena belum ada pembuktian.

Belum punya keturunan lama setelah nikah bagi wanita akan lebih menyakitkan ketika si ibu-ibu muda berkumpul, kadang mengeluh kesahkan sulitnya atau beratnya hidup memiliki anak banyak, susu mahal, repot dan sebagainya. padahal mereka ga nyadar kalo terdengar sang istri yang belum diberikan keturunan akan menyakitkan.

Orang gak bakal merasakan apa yang dirasakan pasangan seperti ini. Pasangan yang nikah langsung dikaruniai anak, ga bakal mikir atau ngerasain rasanya nikah lima tahun belum dikaruniai anak.

Pasangan seperti saya belum dikaruniai anak selama lima tahun menikah mungkin ga pernah merasakan rasanya mereka-mereka yang sudah puluhan tahun belum dikaruniai anak.

Jalan mengadopsi anak juga bukan hal yang mudah bagi kami, saya belum punya rumah sendiri dan gak ingin merepotkan ortu.

Mempelai

Ya sudah saya juga gak mau ngeluh terus, yang penting saya pingin nutup lembaran-lembaran nasib-nasib yang lalu, membuka lembaran baru. Saya gak akan menengok terlalu ke belakang karena takut leher saya patah, yang penting masa lalu adalah bahan introspeksi, ga terlarut dalam kesedihan. Toh Alloh SWT itu memberikan kami nikmat dan rejeki yang banyak buat kita, semoga pada saatnya nanti semuanya akan indah seperti yang banyak orang bilang.

Saya akan anggap saya manusia baru, pasangan baru, usaha baru bersama pasangan-pasangan lain yang baru. Saya gak akan lelah berusaha dan mempertahankan kelurga yang hendak saya bentuk ini. Walau sekarang masih berdua saja. Ga ada kata terlambat, gak ada kata lama bagi saya yang sudah terbiasa mendapatkan sesuatu dengan berjuang. Saya akan pasrah, saya siap jika sudah waktunya diberi kepercayaan sama Alloh SWT dan saya gak akan pernah berhenti meminta pada Nya.

No comments: